ARSINDONEWS
Memberi Informasi Bukan Sekedar Berita

Bertahan Lewat Alih Profesi Jadi Perajin Masker Saat Wabah Covid-19

0 888

ArsindoNews – Di tengah pandemi global Covid-19 saat ini, menjalankan sebuah usaha menjadi suatu hal yang sulit. Pasalnya, pemerintah juga sedang memberlakukan kebijakan physical distancing untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Dengan adanya hambatan itu, pelaku usaha pun harus menemukan peluang baru agar tetap bisa mendapatkan penghasilan. Salah satu yang berhasil menemukan dan memanfaatkannya adalah Herwadi, 39, yang berprofesi sebagai pedagang baju.

Dirinya banting stir menjadi perajin masker kain di Desa Selage, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat akibat penurunan omset bisnis selama adanya wabah Covid-19. Dirinya memulai usahanya sejak maret 2020 silam.

“Saya sudah tidak melakoni usaha jual pakaian jadi lagi, semenjak wabah Covid-19, pasar tempat saya berdagang ditutup sementara oleh pemerintah. Saya melihat peluang bisnis baru agar saya dan delapan orang pekerja saya tetap bisa hidup, kami membuat dan menjual masker untuk masyarakat di wilayah Lombok,“ terangnya dalam keterangan resmi kepada awak media, Senin (20/4).

Herwadi sendiri, saat ini mendapat pesanan pembuatan masker dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sebanyak 10.000 lembar yang nantinya akan disalurkan oleh pemerintah kepada warga masyarakat di wilayah tersebut. Masker yang ia jual kepada pemerintah seharga Rp 3.500 per lembar.

“Dalam sehari saya membuat masker kurang lebih 1.000 lembar dengan tipe satu lapisan. Kami jual kepada pemerintah sebesar Rp.3.500 per lembar. Sebelumnya, kalo langsung dijual kepada broker atau tengkulak masker, biasanya saya memberikan harga Rp. 5.000 per lembar,“ ungkapnya.

Untuk mendukung kelangsungan usaha, Herwadi memperkuat permodalannya dengan program KUR (kredit usaha rakyat) dari BRI. Herwadi meminjam KUR BRI sebesar Rp 25 juta untuk membeli bahan baku kain dan karet yang saat ini mulai langka dan mahal.

Sudah 3 tahun lamanya ia menjadi nasabah setia BRI, baik pinjaman dan simpanan. Ia mengaku merasa nyaman dengan layanan yang diberikan BRI.

“Proses pengajuan dan pencairan kreditnya mudah dan cepat, ini yang saya suka dari BRI. Hanya butuh waktu 2 sampai 3 hari pengajuan pinjaman langsung disetujui dan ditransfer ke rekening saya,“ katanya.

Senada dengan hal tersebut, Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto mengatakan bahwa BRI memang banyak memberikan kemudahan bagi para nasabahnya, terlebih dalam masa-masa sulit seperti sekarang ini. Proses pengajuan, analisis kredit, dan pencairan yang cepat serta terdigitalisasi adalah salah satu kemudahan yang ditawarkan oleh BRI.

Amam menyebutkan penyaluran kredit mikro Bank BRI secara nasional hingga Desember 2019 lalu adalah sebesar Rp 307,7 triliun. Sementara untuk wilayah Denpasar sendiri, mencapai Rp 21,4 triliun hingga akhir Maret 2020 lalu.

“Kami berharap semakin banyak nasabah Bank BRI yang ikut terlibat dalam memerangi wabah Covid-19 ini. BRI terus berkomitmen untuk mendukung dan memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM di situasi seperti sekarang ini,” tutup Amam

(Japos/AN)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy